Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Salena Jones


Salena Jones (62) dikenal dengan suara contralto yang empuk. Ia banyak memopulerkan kembali lagu-lagu yang pernah dibawakan artis lain. Lewat interpretasi personalnya, lagu artis lain yang telah terkenal pun di tangan Jones seperti menjadi lagu baru, khas milik Jones.

Salena Jones, antara lain, pernah melantunkan Still yang sebelumnya dipopulerkan The Commodores lewat vokal Lionel Ritchie. Kemudian Antonio’s Song (Michael Franks), Lately (Stevie Wonder), Love is in the Air (John Paul Young).

Selena memulai karier sebagai penyanyi di tahun 1966, ia pindah ke London setelah menjadi penyanyi kontrak di sebuah klub di Spanyol. Di London Selena menjadi penyanyi di sebuah klub bernama Ronnie Scott's, di tempat itulah nama Selena mulai dikenal. Selama merintis karier musiknya Selena telah tampil di berbagai Hall musik terkenal di seluruh daratan eropa seperti Perancis, Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda dan masih banyak lagi. Nama Selena makin berkibar ketika BBC Big Band tertarik untuk mensponsorinya, ia akhirnya berkesempatan tampil di benua Australia, Afrika, Amerika Selatan hingga ke benua Asia seperti Cina,Jepang, Hongkong bahkan Indonesia.

Diawal tahun 2000 Selena berkesempatan tampil pada Lionel Hampton Jazz Festival di kota Idaho. Ia tampil bersama the Hank Jones` Quartet dan juga musisi terkenal lainnya seperti Russell Malone, Lewis Nash,Roy Hargrove, Dianne Reeves dan Freddie Cole. Selama pertunjukan yang berlangsung di Amerika ini Selena juga tampil pertama kali bersama grup trionya sendiri di sebuah klub yang cukup terkenal di kota New york, Blue Note Jazz Club, Ia menjadi penyanyi eropa pertama yang pernah tampi di klub tersebut. Selena boleh berbangga hati karena tiket pertunjukannya sold out dan satu dari empatlpenampilannya di siarkan langsung keseluruh dunia melalui world wide web dan juga di liput oleh stasiun tv dari Jepang.

Level 42


Seusai tampil di Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2007 di bulan Maret 2007 yang lalu, kini Level 42 akan datang menghibur para jazz lover di tiga kota yakni; Medan, Bandung, dan Surabaya pada 11, 13 dan 14 Juni tahun ini dalam rangkaian konser tur dunia mereka . Bersiaplah menonton penampilan grup musik yang dibentuk pada tahun 1980 ini. Selama 14 tahun berkarya, Level 42 setidaknya telah merilis 17 album dan mencetak 29 lagu hit. Dan yang terbesar adalah lagu “Lessons In Love” yang menjadi lagu nomor saru di lebih dari 17 negara, pada tahun 1986. Lagu hits lainnya yang mungkin diketahui juga oleh penggemar Level 42 di tanah air adalah lagu “Something About You” dan lagu “Running in the family”.

Level 42 terdiri dari Mark King (bass, vokal), Phil Gould (drum), Boon Gould (gitar), dan Mike Lindup (keyboard). Single pertama mereka adalah "Love Meeting Love”, dan album perdana “Level 42” dirilis pada tahun 1981. Namun baru di tahun 1984, Level 42 berhasil menembus tangga lagu Inggris melalui "The Sun Goes Down (Living It Up)". Dan di tahun 1985, lagu "Lessons in Love" mampu menjadi lagu nomor satu di Inggris. Sedangkan lagu "Something About You" menembus tangga lagu Top 10 di Amerika Serikat.

Rekaman Level 42 selanjtunya juga mampu menjadi hit di Inggris, yaitu lagu “Running in the family” di tahun 1987 dan lagu “Staring at the Sun” di tahun 1988. Namun kakak-beradik Phil & Boon Gould keluar dari Level 42 pada tahun 1987. Posisi mereka kemudian digantikan oleh gitaris Alan Murphy dan penabuh drum Gary Husband. Dan setelah Alan Murphy meninggal dunia karena penyakit AIDS di tahun 1989, posisinya digantikan oleh gitaris Alan Holdsworth. Rilis album Level 42 selanjutnya adalah “Guaranteed” di tahun 1991 dan album “Forever Now” di tahun 1995.

CHRIS BOTTI


Meskipun namanya dikenal luas sebagai musisi/performer "contemporary jazz", trumpeter Chris Botti mengawali langkahnya dengan menyeburkan diri pada dunia musik pop. Penyanyi yang juga merupakan penduduk asli kota Oregon ini mulai bermain musik pada saat usianya masih menginjak angka sepuluh tahun, dan semasa duduk dibangku sma ia mulai tampil bermain musik secara profesional. Setelah menyelesaikan studinya di jurusan "music program" Indiana University di bawah arahan seorang "jazz educator" David Baker, ia pindah ke kota New York dimana ia belajar sekaligus bekerja dengan "saxophonist" George Coleman dan "trumpet great" Woody Shaw. Dibawah dua arahan produser tersebut dan juga Hugh Padgham dan Arif Mardin, Botti dengan cepat menjelma sebagai "highly regarded pop session player" dan ikut terlibat dalam proses rekaman bersama musisi ternama seperti Bob Dylan, Aretha Franklin, dan Thomas Dolby.

Di tahun 1990 Botti mendapat tawaran untuk bergabung dalam Paul Simon's band, dimana ia akhirnya pun bergabung sampai lima tahun lamanya. Akhirnya pada tahun 1995, Botti membuat album solo perdananya yang bertajuk "First Wish", sebuah album yang menggabungkan musik "contemporary pop-jazz" dengan unsur "art rock". Setelah tampil pada film Caught di tahun 1996, Botti muncul lagi dengan sebuah LP (mini album) di tahun 1997 dengan titel "Midnight Without You" dan disusul lagi oleh album dengan titel "Slowing Down the World" di tahun 1999.

Dua tahun setelah itu, ia tampil bersama Sting dalam tour "Brand New Day world tour", dan moment itu membawa Botti untuk kembali menggali ulang musik-musik lama sambil berusaha menciptakan sesuatu yang baru. Album "Night Sessions" yang keluar di tahun 2001 di rekam di Los Angles dimana menampilkan musik dengan nuansa "jazzy pop". Di tahun 2003 muncul album Thousand Kisses Deep, dan untuk mengurangi unsur "tradtional orchestral jazz" di tahun 2004 keluarlah "When I Fall In Love" dan dilanjutkan dengan "To Love Again The Duets" di tahun 2005.

Albums:
To Love Again: The Duets (2005)
When I Fall In Love (2004)
A Thousand Kisses Deep (2003)
December (2002)
Night Sessions (2001)
Slowing Down The World (1999)
Midnight Without You (1997)

SYAHRANI


Hatinya sudah untuk musik jazz

Dia salah satu perempuan yang terus eksis mengembangkan musik jazz di Indonesia, talentanya telah dikenal dari berbagai festival jazz di dalam maupun di luar negeri. Mengawali karir sebagai penyanyi dari klub ke klub telah dilakoninya sejak 15 tahun terakhir, prestasinya telah tertoreh dalam berbagai bidang seni dan baru-baru ini dia memutuskan bermain di film GARASI garapan Agung Sentausa, produksi MILES Production.

Di tengah padatnya jadwal manggung perempuan bernama asli Saira Syaharani Ibrahim, kelahiran Batu, yang baru saja meluncurkan album "Untuk Kamu" ini, djisamsoe.com berhasil mendapatkan kesempatan berbincang santai mengenai musik jazz yang digelutinya seusai tampil di Dji Sam Soe Super Premium FRIDAY JAZZ NITE di Boulevard Lounge, Hotel Nikko-Jakarta bersama bandnya Queen Fire Works.

Kenapa Anda memilih musik jazz sebagai karir?
Hmm...aku dan Queen Fire Works (-bandnya) memilih musik jazz itu sebagai basic, sehingga ketika kita mengembangkannya ke arah macam-macam, misalnya groove, pop, funk...terlihat ciri khas kita, kita gunakan jazz sebagai feel kita, kita implementasikan jazz dalam berbagai elemen lagu, kita eksplor, because it's that it that way..karena kan bosen yah kalo kita mainin lagu seperti di kaset atau CD..monoton!Nah..dengan basic jazz, we can explore it!

Sudah suka jazz dari kecil?
It's a give!
orang tuaku suka sekali mendengarkan banyak musik jazz, dari kelas dua SD saja aku udah sering dengar Nat King Cole..orchestra, something like that..ini satu kelebihan, dibandingkan ketika kita mendengar jazz ketika berusia 25 tahun, efeknya pasti beda!Sebenarnya aku nggak memilih jazz..tapi itu ada di dalam aku I'ts in me! (sambil menunjuk dadanya), dulu..aku sempat gabung main rock, and then again ketika aku main swing, ballad.."dia"(musik jazz) sudah ada di sana..jadi aku nggak perlu latihan sampai want to be gimana...I don't need too! I don't worry about jazz because in me everywhere!

Ada musisi jazz yang difavoritkan?
here..(sambil menunjuk) Donny Suhendra (Queen Fire Works band), karena dia bisa membuat sebuah lagu terlihat jauh lebih berharga..lebh hidup..saya nggak bisa main gitar, paling saya bikin lagu berapa chord..tapi dia bisa bongkar like hell sehingga semua aransemen bisa begitu lebar...belum ada duanya buat saya!(sambil tersenyum) He's a hell of musician! dan gue ngumpul di Queen Fire Works, which is ada Tito, Dani, Andre, Didit dengan latihan yang padat dan sesi pertemuan yang sempit karena sebagian dari kita tinggal di Yogya, cuma kita bisa bongkar lagu seperti apa yang mengalir dalam jiwa kita. Yang lebih mengikat adalah musiknya, karena rasa belonging yang kuat antar satu sama lain, perasaan kekeluargaan, itu yang bisa menyatukan kita karena musik nantinya just follow..

Karena rasa keingintahuannya yang besar, dia menerima tawaran bermain film, baginya bermain film itu sangat sulit, meskipun dia pernah memerankan karakter Nyai Dasima dalam lakon teater Madame Dasima pada tahun 2001 lalu.

Akhirnya jam di tangan telah menunjukkan angka 12 pada tengah malam itu dan sesi wawancara pun harus berakhir, namun Syaharani masih menebar keceriaan pada orang-orang sekitarnya, seperti keceriaannya menyanyikan lagu-lagu jazz yang membuat penonton bergoyang beberapa menit sebelumnya.

Angelita Li


Angelita Li memulai karier nya di dunia musik pada tahun 1979, di usia nya yang masih 9 tahun ia sudah sering mengisi "background vocal" untuk iklan-iklan komersial di televisi. Di awal tahun 90an ia menghabiskan waktu selama lima tahun di Bangkok untuk merintis kariernya di dunia musik bersama beberapa grup jazz setempat. Seiring berjalannya waktu namanya mulai terdengar dan ia pun mendapat tawaran dari salah satu grup Fusion yang cukup "ngetop" di Thailand saat itu yang bernama Infinity. Angelita saat itu diminta ikut terlibat dalam proses pembuatan sebuah album yang bertitel "Together Again".

Setahun berikutnya sinar terang mulai menyinari karier musiknya, dimana bakat menyanyi yang ia miliki diminati oleh sebuah major label bernama Grammy Entertainment. Tidak lama setelah Angelita mendapat kontrak pertamanya tersebut album debutnya pun keluar, sebuah album dalam bahasa Inggris yang bertitel "The Eyes of Love".

Di tahun 1995, Angelita memutuskan untuk pindah ke kota Los Angeles untuk memperluas pengetahuan musikalitasnya, ia pun mendaftar ke dua sekolah musik samba ternama, Unidos de Los Angeles dan Lula and the Afro Brazil. Setelah banyak mendalami ragam jenis musik seperti
Jazz, Brazilian, Fusion, R&B, Top 40 , Funk dan Rock, Angelita lalu mengikuti semacam tour bersama para grup band ternama di Los Angeles. Pengalamannya yang mungkin tidak akan terlupa adalah dimana ia ikut menjadi back up vokal diatas panggung bersama Ricky Martin di tahun 1998 dalam acara MTV Awards yang berlangsung di Singapura.

Di tahun 1996 ia kembali kota asalnya Hongkong dimana ia mengeluarkan Chinese Jazz album pertamannya yang bertitel "Mystery". Album ini juga ikut dikerjakan oleh beberapa musisi jazz ternama seperti Eugene Pao, Dave Packer, Pau Candaleria, dan Anthony Fernandez. Lima tahun belakangan ini Angelita telah berkerja bersama the myriad musicians dimana mereka sering mengadakan berbagai festival jazz di berbagai penjuru Asia.

Di tahun 2002, Angelita diundang oleh European jazz label untuk rekaman album solo internasinal dengan titel "Caminhos Cruzados'yang turut menampilkan musisi-musisi lainnya seperti Eugene Pao dan peraih Grammy Hans Ulrik. Disamping sering menyumbang suara dalam album-album kompilasi jazz dan juga menjadi backing vokal para musisi ternama, Angelita juga sibuk memberi kuliah tentang menulis artikel dalam jazz, ia pun juga berkerja sebagai penyiar sebuah acara jazz di stasiun Radio Television Hong Kong.

Chaka Khan


Di tahun 1984 nama Chaka Khan melejit ke tingkat popularitas tertinggi selama karienya di blantika industri musik. Single "I Feel for you yang dibawakannya bersama Prince menuai sukses besar di tahun tersebut. Penyanyi "Rnb" yang tergabung dalam grup band Rufus ini memulai karier musik di tahun 1973, bersama label ABC Chaka bersama grup bandnya Rufus membawakan musik-musik beraliran funk dimana pada dekade tersebut grup ini punya pengaruh cukup besar di industri musik.



Lusinan penghargaan mulai dari Gold hingga Platinum telah diraih Chaka Khan bersama Rufus. Seiring waktu berjalan Chaka Khan mulai merintis karier solonya sebagai penyanyi di tahun 1978. Dengan arahan sang produser Arif Mardin ia berhasil menorehkan sebuah hits single dengan titel "I'm Every Woman" dimana single ini menjadi "big hits" dan berada cukup lama pada chart-chart lagu bergengsi. Sebagai seorang penyanyi solo Chaka Khan juga pernah terlibat sebagai backing vokal untuk singel Ry Cooder yang bertitel Bop Till You Drop.



Ditahun 1980 Chaka mengeluarkan album Naughty dengan single andalan "What 'Cha Gonna Do for Me". Berlanjut di tahun 1982 Chaka masuk dalam album kompilasi jazz dimana pada album ini terdapat musisi-musisi jazz ternama seperti Freddie Hubbard , Joe Henderson , Stanley Clarke , Chick Corea dan Lenny White . Chaka Khan kembali mengejutkan industri musik pop saat ia merilis single I feel for you di tahun 1984. Single ini berhasil mendapatkan platinum dan berhasil merebut Grammy. Di tahun 1990 Chaka Khan kembali sukses merebut Grammy untuk kedua kalinya dimana single "I'll Be Good to You" yang dibawakannya bersama Ray Charles menuai sukses besar di tahun tersebut.

PAUL ANGKA

ny Crason’s Tonight Show. Lagu-lagu lain yang lahir dari tangan dingin Paul adalaPenyanyi kelahiran ottawa canada 67 tahun yang lalu ini merupakan keturunan kanada-lebanon. Paul kecil aktif dalam kelompok paduan suara gereja orthodox Saint Elijah. Paul juga pernah bergabung dengan grup vokal trio “Bobby Soxers” semasa sekolah di Fisher Park. Berkat dorongan orangtuanya pada umur 14 tahun Paul rekaman single pertamanya yang berjudul “I Confess”. pada tahun 1957 dia pergi ke New York untuk mengikuti audisi di saluran televisi ABC.dengan membawakan lagu yang berjudul “Diana” Paul berhasil memuncaki tangga lagu. dengan kesuksesan ini Paul pun menjelma menjadi idola baru bagi kaum remaja pada masa itu.

Paul kemudian berkenalan dengan Buddy Holly saat tur bersama di Australia. Melalui perkenalan itu bakat lain Paul pun muncul yaitu sebagai pencipta lagu yang brilian, sebagai bukti dia berhasil menciptakan lagu hits yang kemudian dibawakan oleh Buddy yaitu “It Doesn’t Matter”. Lagu ini juga menjadi lagu tema acara Johnh “She’s A Lady” milik Tom Jones dan single yang telah mendunia milik Frank Sinatra yaitu “My Way”. Pada tahun 1960 Paul melakuka terobosan dalam karirnya dengan berakting dalam film layar lebar dengan titel The Longest Day sekaligus menulis lagu untuk soundtrack film ini yaitu “Lonely Boy” yang kemudian jadi hits sukses. Selain sukses dalam menghasilkan single yang mendunia Paul juga tercatat berhasil dalam menciptakan jingle untuk iklan komersial KODAK yang berjudul Times of Your Life. Jingle ini terbukti cukup populer pada masa itu dan Paul pun memutuskan untuk merekamnya dalam format full album. Pada tahun 2002 Paul Anka berduet dengan musisi lintas genre yaitu penyanyi hip-hop Jay Z dalam single “I Did It My Way” yang terdapat dalam album The Blueprint 2: The Gift and The Curse

TOMPI (TEUKU ADI FITRIAN)


Lahir dengan nama Teuku Adifitrian, atau lebih yang popular dengan nama Tompi pada tanggal 22 September 1978 di Lhokseumawe Aceh. Kesenian daerah Aceh sangat mendukung dengan hobi dan bakat Tompi di bidang seni terutama dalam hal tarik suara dan tari. Di Acehlah masa remaja Tompi di habiskan.

Hingga pada tahun 1997 ketika dia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di sela-sela waktu kuliahnya bakat tersebut dilanjutkan dan dikembangkan dengan lebih banyak lagi belajar seni musik dan tarik suara bersama penyanyi jazz terkenal di Jakarta Bertha dan pianis Tjut Nyak Deviana.

Lelaki lajang yang kini sedang menyelesaikan studi spesialisnya di bidang bedah plastic ini juga mempunyai kemampuan untuk menulis lagu dengan bantuan alat perekam kecil atau telpon genggamnya. Dia mengambil inspirasi pembuatan lagunya dari suasana sekitarnya pada saat itu atau juga dari pengalaman-pengalaman teman-teman dekatnya.

Pada tahun 2002, penyanyi yang tidak canggung lagi tampil membawakan gaya funk, r&b, soul, hip hop, nu-jazz, swing dan bossanova ini berhasil mendapatkan tawaran untuk menjadi house band di The Bar, Hotel Four Season Jakarta setelah sekian lama malang melintang “ngamen” dari satu acara ke acara yang lain. Karier profesionalnya sebagai penyanyi bertambah lagi ketika kelompok band jazz fusion baru Cherokee pada tahun 2003 mengajaknya untuk menjadi vokalis kelompok tersebut tampil di Singapura. Di sana, Tompi mendapat julukan dari para penonton “Supervocalist” atau “Supersound”. Kesuksesannya tersebut diikuti bersama dengan tournya Cherokee di kota-kota di Jawa dan beberapa tempat lain. Sepertinya saat-saat tersebut menjadi titik tolak kepopuleran Tompi sehingga dikenal dan disukai para remaja dan sebagian penggemar musik jazz di Indonesia.

Namun tidak sampai di situ saja. Pada akhir 2004, Tompi pun bergabung dengan sebuah kelompok band etnis-fusion yang musisinya terdiri dari multinasional, Bali Lounge. Ketika tampil dalam Java Jazz Festival 2005 di Jakarta, mereka berhasil memukau ribuan penonton yang hadir. Satu hit terkenal dari kelompok ini dengan penampilan Tompi yang lebih menonjol adalah lagu ‘Something’s Wrong’.

Langkahnya seperti sulit dihentikan saja. Pada pertengahan tahun 2005 lalu dia dengan percaya diri tampil dalam album solo perdananya dengan judul yang simple, “T”, yang merupakan inisial nama popularnya. Materi dalam album ini sebagian besar adalah kumpulan lagu-lagi ciptaanya dahulu, walau ditambahkan dengan lagu-lagu barunya seperti ‘Selalu Denganmu’ atau ‘Dance With Me’. Keseluruhan album ini berisi 12 lagu yang setengah darinya lagu berbahasa Inggris. Tompi pun berharap album solonya ini dapat diterima oleh semua kalangan baik itu pecinta musik jazz maupun pop di tanah air.

Bagi Tompi, yang masih mempunyai akar kuat dari serambi Mekkah tersebut, kesuksesan dan kepopulerannya selama ini tidak menggelapkan hatinya untuk berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta dan lupa terhadap penderitaan sanak saudara di Aceh setelah dilanda musibah nasional tsunami di akhir tahun 2004 yang lalu. Pada waktu bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1426H yang lalu, Tompi juga terlibat dalam pembuatan album bareng-bareng “Soulful Ramadhan”. Sebuah album rohani dengan sentuhan modern namun tetap bernuansa padang pasir yang sangat khas dan kental dengan suasana Ramadhan. Selain itu, dia juga pernah membantu kelompok Groovology, Funkythumb dan Sova.